Sejarah Desa

Potensi Ekowisata Air Terjun Sarambu Alla

Sejak dulu sampai sekarang, Kalotok merupakan sebuah  Wilayah Adat di Tana Luwu yang secara administratif terletak di Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara yang terdiri atas 2 (dua) Desa yakni Desa Kalotok dan Desa Pompaniki.  Diperkuat dengan adanya Kelembagaan Adat Kalotok yang diatur dalam Perdes Bersama Desa Kalotok dan Desa Pompaniki No.1 Tahun 2014 Tentang Pemberdayaan Pelestraian Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat Kalotok. Saat ini komunitas Kalotok mayoritas di kedua desa tersebut yang statusnya desa definitif.

Sebelum mekar jadi desa, Kalotok masih status dusun dari Desa Buangin, kemudian dimekarkan sebagai desa persiapan pada tahun 1985. Demikian juga Desa Pompaniki yang dimekarkan sebagai Desa Persiapan pada tahun 1993.

Dalam perjalanan panjang kelembagaan Adat Kalotok, dibawah naungan Opu Lembang Rongkong yang berdomisili di Tarue, Wilayah Adat Kalotok pernah digabungkan dengan Wilayah Adat Siteba. Akibat penggabungan tersebut, hubungan masyarakat Adat Kalotok dan masyarakat Adat Siteba terjalin dengan sangat baik, tidak hanya dalam hal kerjasama, juga dalam hal kekeluargaan, perasaan senasib dan sepenanggungan. Hubungan keduanya yang begitu kuat sehingga dikenal komitmen di masyaraan bahwa: “Kalotok adalah Ibu, dan Siteba adalah Bapak” atau dalam bahasa lokalnya masyarakat biasa menyebutnya “ Indo Kalotok – Ambe Siteba”.

Komitmen dan kebersamaan masyarakat Adat Kalotok dan Siteba betul-betul menjadi habitus hingga saat ini. Hal tersebut dapat dilihat ketika ada persoalan ataupun kesalah-pahaman antar remaja dari dua wilayah adat tersebut, maka “Kalotok adalah Ibu, dan Siteba adalah Bapak” masih menjadi jawaban dan solusi terbaik dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Komitmen ini menjadi mengingat atau perekat bagi masyarakat adat Siteba dan Kalotok.

Dalam berbagai proses selanjutnya hingga kemudian kerajaan Luwu masuk dalam peralihan pemerintah Kolonial Belanda (abad ke-20), wilayah adat Siteba secara administrative masuk di wilayah Walenrang sehingga ditetapkan Saluampak menjadi batas wilayah Kalotok dengan Walenrang.

Batas-batas Alam Wilayah Adat Kalotok  
Wilayah Adat Kalotok dahulu berbatasan di bagian utara dengan Wilayah Adat Buangin (sekarang meliputi Desa Dandang di sungai Pong Lumbaja, dibagian timur berbatasan dengan Wilayah Adat Malangke (Lawewe, dulu pernah masuk wilayah Adat Kalotok-Pompaniki) namun sekarang masuk wilayah Baebunta. Di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah adat Pongko Kecamatan Lamasi (Saluampak) sekaligus sebagai batas kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu. Kemudian di sebelah barat, Wilayah Adat Kalotok berbatasan dengan Wilayah Adat Pongko, Siteba’ membelok ke utara berbatasan dengan Salu Paku, Desa Tandung ke timur Desa Pararra.

Tapal batas tiap wilayah pada umumnya ditandai dengan batas alam, dalam bahasa lokal masyarakat Adat Kalotok berbunyi: “Lurokko wai batasna tau, lumai wai wilayah ta” (jika air mengalir kesana maka itu wilayah orang, jika air mengalir kemari, maka itu wilayah kita). Penandaan batas tersebut telah disepakati untuk penandaan batas Wilayah Adat Kalotok dengan wilayah di sekitarnya.

Penetapan batas alam tersebut menyatakan bahwa:

Apabila air dari puncak jatuhnya ke utara, berarti wilayah tersebut adalah wilayah Tandung. Jika aliran sungai mengalir ke Lena’- Pararra, maka wilayah tersebut adalah Pararra. Dan apabila airnya jatuh ke Tanangkai, berarti wilayah tersebut sudah masuk wilayah Buangin. Tapi jika airnya mengalir ke anak sungai induk hulu sungai Ponglumbaja, maka wilayah itu adalah wilayah Dandang. Jika air sungai mengalir ke selatan, dan mengalir ke sungai Bebesuk, sungai Saluampak, berarti wilayah tersebut adalah wilayah Adat Kalotok.

Batas-batas wilayah tersebut masih dipatuhi dan belum berubah sampai saat ini, karena belum pernah dibicarakan baik melalui kelembagaan adat masing-masing, maupun melalui pemerintah desa atau kecamatan (khusus wilayah bagian Sarat Kalotok atau Wilayah Pegunungan), namun wilayah Kalotok bagian timur, hampir seluruhnya telah berubah karena adanya pemekaran desa.

Situs Sejarah dan Budaya
Di wilayah Adat Kalotok terdapat situs sejarah dan budaya berupa kuburan/makam tua yang disebut Kaburu (Salassa), kampung tua, rumah Tomakaka

Makam Tua/Salassa
1.Makam Pakka Manurung dengan istrinya. Lokasi makam tua ini berada di Puncak Buntu Tea, yang merupakan gunung tertinggi di Kalotok.
2.Kuburan Tertua berada Tanete Tombang
3.Kuburan Tua berada di Bajai
4.Kuburan Tua berada di Kadakean

Situs Berupa Batu
1.Bekas Telapak Kaki Lalong. Situs ini batu yang bergambar jejak kaki manusia berada di Batu Api Gunung Tiroan
2.Benteng Lalong yang merupakan susunan batu yang menyerupai benteng be

rada di Buntu Tiroan
3.Situs Laso Batu (batu menyerupai kelamin laki-laki laki-laki dan perempuan) berada di Kampung Tombang
4.Batu Kumbak
5.Batu Ma’tintingan

Situs-situs sejarah desa Kalotok ini masih di jaga oleh masyarakat, hal ini terbukti dengan adanya pemagaran beberapa situs sejarah. Sementara itu kampung tua Liburan masih dijaga oleh beberapa orang yang juga bermukim dan menggembala sapi dan kerbau di tempat tersebut.

Kampung Tua dan Rumah Tomakaka
1.Puncak Gunung Bajai dihuni oleh Masyarakat Matua Bajai dengan bukti adanya pekuburan tua
2.Gunung Tombang dihuni oleh Masyarakat Matua Tombang dengan bukti adanya pekuburan tua yang disebut dengan Tanete Tombang
3.Gunung Tea dihuni oleh Pakamanurung dengan bukti adanya pekuburan Pakamanurung yang menurut warga berada dipuncak gunung Tea
4.Gunung Pongtengnge dihuni oleh masyarakat Pongtengnge
5.Gunung Tiroan di huni oleh masyarakat Lalong.
6.Kampung Liburan terletak di pinggir sungai Saluampak dengan bukti adanya bekas persawahan, rumah Tomakaka dengan 33 tiang, dan pekuburan tua.
7.Kampung Batu berada di bagian atas air terjung Sarambualla
8.Komunitas Nanakan berada di dekat sumber mata air panas)
9.Komunitas Ne’ Mala

Di masa lalu masyarakat Kalotok banyak menghuni daerah pegunungan yang hidup aturan adat dan memanfaatkan hasil hutan. Walau bermukim di pegunungan masyarakat tak pernah bermukim di tempat-tempat terjal yang anggap rawan longsor, termasuk menebangi pepohonan yang tumbuh di tempat tersebut.

Masyarakat Kalotok mulai meninggalkan perkampungan di daerah pegunungan sekitar tahun 1958, pada masa itu sudah dianggap aman tak ada lagi peperangan. Masyarakat langsung bermukim di beberapa tempat di dataran rendah seperti To’ Nangka dan Kalotok.

Dari semua perkampungan Tua tersebut hanya Kampung Tua Liburan yang masih berdiri rumah yaitu rumah Tomakaka dan sebuah rumah masyarakat yang masih berpenghuni. Sementara untuk persawahan tidak digarap lagi, walau terletak di tengah hutan kampung Liburan kini dan menjadi daerah gembalaan kerbau dan sapi.

Sumber Mata Air
Faktor yang sangat penting dalam pengelolaan hutan adat Kalotok adalah perlindungan sumber mata air yang ada di dalam kawasan huutan adat. Semua mata air yang perlu dilindungi terdapat dalam Pangngala Ijagai, seperti Buntu (gunung) Tiroan, Bajai, Tombang, dan Buntu Tea. Dari sana mengalir air yang melimpah hingga mengairi anak-anak sungai yang semuanya mengalir ke sungai Bebesuk dan Saluampak.

Terdapat 14 lokasi mata air yang ada di dalam kawasan Pangngala Ijagai yaitu:
1.Mata air Pong dongai di Gunung Tiroan
2.Mata air Salu Tontolong di Gunung Tiroan
3.Mata air Salu Pembalaan di Gunung Tiroan
4.Mata air Nek Pandiu di Gunung Tiroan
5.Mata Air Sepang di Gunung Tiroan
6.Mata air Salu Pongko di Gunung Tiroan
7.Mata air Salu Puarang di Gunung Tiroan
8.Mata air Kadakean di Gunung Tiroan
9.Mata air Salu Tambu Rara di Gunung Bajai
10.Mata air Salu Tombang di Bajai
11.Mata air Indo Roko di Gunung Tombang
12.Mata air Pajamaan di Gunung Tea
13.Mata air Salu Durian di Gunung Tea
14.Mata air Jawi-jawi (Mata air panas)

Daerah mata air ini merupakan hutan lebat yang belum dirambah oleh masyatakat untuk perkebunan kecuali sebagian gunung Tea dan kaki gunung Tiroan telah menjadi daerah perkebunan masyarakat. Mata air dan sungai dianggap menjadi bagian sangat penting bagi kehidupan masyarakat desa Kalotok sehingga hutan harus dijaga kelestariannya.

Sungai induk dan anak sungai yang mengalir di Kalotok yaitu:

I.Sungai Bebesuk (sungai induk), memiliki beberapa anak sungai, yaitu:
1.Lisok
2.Dadeko
3.Rewa
4.Tarakukku
5.Pajamaan (Sumber air bersih/ Gunung Tea)
6.Salu Durian (Sumber air bersih/ Gunung Tea)
7.Panglulukan
8.Indo Roko
9.Tobangan Doke
10.Salu Tambu Rara
11. Masih ada beberapa anak sungai yang belum diketahui

II.Sungai Salu Ampak (sungai induk), dengan anak sungai sebagai berikut:
1.Salu Langsa’
2.Padidiran
3.Balombong Paniki
4.Salu Bombo
5.Salu Liburan
6.Salu Tamolena
7.Masih ada beberapa anak sungai yang belum diketahui

Sumber Air Bersih dan Pengairan Sawah
Sungai Bebesuk merupakan sungai induk yang mata air dan anak sungainya berasal dari gunung Tiroan, Bajai, Tombang dan Tea. Sungai ini dimanfaatkan masyarakat sebagai irigasi yang mengairi persawahan, bukan hanya di kalotok tapi beberapa desa yang terletak di pesisir. Sungai Bebesuk juga menjadi destinasi wisata dengan adanya air terjun Sarambualla dikelola pemerintah daerah, selain itu terdapat pula air terjun lain yang belum di kelola sebagai destinasi wisata oleh pemerintah dan masyarakat Kalotok. Diantaranya air terjun Sarambu Jawi-jawi, Tambatang dan Nanakan belum di kelola sebagai daerah wisata.

Sementara itu dua anak sungai Bebesuk yaitu sungai Pajaman di Gunung Tea dan sungai Salu Durian di Gunung Tea menjadi sumber air bersih bagi masyarakat di 4 desa, yaitu: Desa Kalotok, Desa Pompaniki, Batu Alang, dan Bone Subur. Namun untuk Desa Kalotok sendiri, belum semua dusun terlayani kebutuhan air bersihnya.

Sungai Saluampa’ yang menjadi batas alam antara Desa Kalotok dan desa tetangga di wilayah Kabupaten Luwu, sekaligus menjadi batas alam Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu. Sungai ini juga dimanfaatkan untuk irigasi persawahan baik di Desa Kalotok dan Pompaniki termasuk beberapa desa yang dekat dengan pesisir.

Hutan Adat Kalotok
Gunung-gunung yang berada di Desa Kalotok masih ditumbuhi hutan, dan pada bagian kaki gunung menjadi areal perkebunan masyarakat. Lokasi hutan dan masih dipertahankan vegetasinya, yaitu:
1.Gunung Bajai
2.Tombang
3.Tuwara
4.Pongtengnge

Lokasi sudah jadi kebun/diolah warga yang ditanami berupa durian dan kakao, yaitu:
1.Kaki Gunung Tiroan
2.Kaki Gunung Tea

Walau gunung-gunung tersebut pernah menjadi tempat bermukim namun masyarakat tidak pernah menyentuh atau merambah daerah-daerah tertentu yang dianggap rawan longsor karena kondisinya yang terjal.

Salah satu lokasi yang terjaga vegetasi hutannya yaitu Gunung Tiroan. Sejak masa kerajaan dan penjajahan Belanda hingga sekarang masyarakat tidak pernah menyentuh dan merambah wilayah ini, baik dengan menebang kayu atau menjadikan areal perkebunan. Jika daerah ini dirambah maka akan menyebabkan longsor yang dapat menghancurkan perkebunan, persawahan yang berada di sepanjang aliran sungai Bebesuk., dan perkampungan di Dusun To’Nangka yang berada dekat dengan gunung Tiroan.

Daerah terjal di tempat ini sejak dulu hingga sekarang masih menjadi larangan masyarakat untuk di rambah. Beberapa dearth yang kemiringan dan terjal yaitu:
1.Gunung Tiroan dan sekitarnya
2.Sarambu Alla’ dan sekitarnya

Walaupun terdapat larangan untuk merambah hutan di sekitar gunung masyarakat tetap memanfaatkan hutan untuk sumber perekonomian, diantaranya buah-buahan, rotan dan madu selain itu kayu hutan yang dimanfaatkan masyarakat untuk membangun rumah dan keperluan yang lain.

Facebook Comments